Baik Sangka kepada Allah sebagai Bukti Cinta Hamba (Part 1)

πŸ“•πŸ“—πŸ“˜πŸ“™πŸ“”
ARTIKEL MALAM

Hari/Tgl : Senin, 15 November 2021
11 Rabi’ul Akhir 1443 H
No. : 2237/AM/KOM/XI/2021
Materi : Tasqif
Pemateri : Wahyu Rinaldi

Tujuan : KUTUBer & Umum

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

πŸ“š Baik Sangka kepada Allah sebagai Bukti Cinta Hamba (Part 1)

Sahabat KUTUBer yang semoga dirahmati Allah. Husnuzhzhan, atau yang sering kita terjemahkan dengan berbaik sangka, bukanlah hal yang mudah. Sudi atau tidak kita harus akui itu. Wajar saja Al-Qur’an maupun hadist berulang-ulang mengingatkan kita terkait husnuzhzhan ini.

Pemantiknya sederhana, karena husnuzhzhan atau sangka-menyangka itu urusan hati (min af’alil qulub), dan kita tahu sendiri siapa sang pengendali hati sebenarnya, tiada lain kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

Bahkan, untuk mengendalikan lintasan hati sendiri saja kita tidak mampu. Maka dari itu, Rasulullah shallalahu β€˜alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa, Ya muqallib al-qulub tsabbit qalbi β€˜ala dinika, β€œWahai Sang Pembolak-Balik hati, teguhkanlah hatiku memeluk agama-Mu.”

Coba kita ambil contoh, seandainya dalam sebuah majelis pengajian seorang kiai besar, sebut saja Gus Baha’, misalnya, di tengah pengajian tampak seorang pria tinggi besar berkulit coklat, bagian lengan dan lehernya dipenuhi tato dengan muka yang tampak tak ramah, menghampiri tempat di mana Gus Baha’ duduk bersila dengan kitab dan meja berukuran kecil tepat di hadapannya.

Tanpa salam dan permisi, ia melewati sela-sela kerumunan orang yang duduk rapi menyimak pengajian kiai karismatik itu. Para hadirin yang sedari tadi memperhatikan sosok Gus Baha’ dan larut dalam kajian yang disampaikannya, kini teralihkan begitu saja menuju sosok yang sangat berbeda dari yang lain itu.

Suasana yang sedikit β€˜horor’ tersebut berlangsung cukup lama sampai si pria tadi berhasil duduk di samping kanan Gus Baha’ dengan gaya duduk ihtiba’ (kedua tangan memeluk kedua lutut yang terangkat sejajar dengan dada).

Melihat fenomena di atas, mampukah kita mengatur lintasan hati kita untuk tidak sampai berprasangka buruk kepada sesama? Kalau berkaca pada tabiat manusiawi kita, saya rasa tidak, kecuali satu-dua orang yang hatinya dijaga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Secara umum, mungkin kita bergumam atau paling tidak terbersit dalam pikiran bahwa pria bertato tadi aneh, sekonyong-konyong masuk majelis, tanpa permisi, melangkahi satu demi satu jamaah yang sedang khusyuk menyimak penyampaian Gus Baha’.

Padahal, bila ditelisik lebih jauh, ternyata pria yang tampak aneh tadi adalah seorang mualaf beberapa hari lalu yang ingin belajar Islam rahmatan lil’alamin kepada sumber yang terpercaya. Jadi, ketidaktahuannya akan adab dan tata krama adalah sebuah kewajaran yang harus dimaklumi.

Poinnya, untuk sesuatu yang bisa kita peroleh jawabannya secara mudah saja teramat sukar kita menata hati. Apalagi dalam menyikapi kada-kadar Allah, yang mana berinteraksi atau bertanya langsung kepada-Nya tidaklah sederhana. Butuh spiritual tingkat tinggi untuk bisa melakukannya.

Wallahu A’lam Bisshowab

Sumber: https://nu.or.id/tasawuf-dan-akhlak/baik-sangka-kepada-allah-sebagai-bukti-cinta-hamba-Sy2TX

πŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌ

=============================
πŸ‘³πŸ»Konsultasi: https://wa.me/6281254571543 (Apry Zakaria Ramadhan)
πŸ“² Info KUTUB : Bit.ly/media_kutub
———–**———–
β•βπŸ’°SEDEKAH KUTUBπŸ’°β ═
πŸ’° Bank Muamalat Nomor rekening: 3180005019
πŸ’³ Ac : Komunitas Tahajjud Berantai atau Ke Member Account KUTUB masing-masing (bagi yang sudah mendapatkan identitas member Kutub)
πŸ“±Konfirmasi : https://wa.me/6285749376876 (Bendahara KUTUB)

❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁
✊🏻 Mengokohkan Langkah, Menggelorakan Istiqamah (OMGT)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>