Bersedih, Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat (Bagian 2)

πŸ““πŸ“•πŸ“—πŸ“˜πŸ“™πŸ“”
ARTIKEL MALAM

Hari/Tgl. : Jum’at, 26 Februari 2021
15 Rajab 1442 H
No. : 2026/AM/KOM/II/2021
Materi : Akhlaq
Pemateri. : Ustadz M. Shafwan Husein Ellomboki

Tujuan : KUTUBer & Umum

πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–

πŸ“š Bersedih, Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat (Bagian 2)

Ini menandakan bahwa ketika di dunia mereka pernah bersedih sebagaimana mereka tentu saja pernah ditimpa musibah yang terjadi di luar ikhtiar mereka. Hanya, ketika kesedihan itu harus terjadi dan jiwa tidak lagi memiliki cara untuk menghindarnya, maka kesedihan itu justru akan mendatangkan pahala. Itu terjadi, karena kesedihan yang demikian merupakan bagian dari musibah atau cobaan. Maka dari itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa-doa dan sarana-sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya.

ΩˆΩŽΩ„ΩŽΨ§ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ω‘ΩŽΨ°ΩΩŠΩ†ΩŽ Ψ₯ِذَا Ω…ΩŽΨ§ أَΨͺΩŽΩˆΩ’ΩƒΩŽ لِΨͺΩŽΨ­Ω’Ω…ΩΩ„ΩŽΩ‡ΩΩ…Ω’ قُلْΨͺَ Ω„ΩŽΨ§ أَجِدُ Ω…ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΨ­Ω’Ω…ΩΩ„ΩΩƒΩΩ…Ω’ ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΨͺΩŽΩˆΩŽΩ„Ω‘ΩŽΩˆΩ’Ψ§ ΩˆΩŽΨ£ΩŽΨΉΩ’ΩŠΩΩ†ΩΩ‡ΩΩ…Ω’ Ψͺَفِيآُ Ω…ΩΩ†ΩŽ Ψ§Ω„Ψ―Ω‘ΩŽΩ…Ω’ΨΉΩ Ψ­ΩŽΨ²ΩŽΩ†Ω‹Ψ§ Ψ£ΩŽΩ„Ω‘ΩŽΨ§ يَجِدُوا Ω…ΩŽΨ§ ΩŠΩΩ†Ω’ΩΩΩ‚ΩΩˆΩ†ΩŽ

“Dan, tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datangkepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraaan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At-Taubah: 92).

Demikianlah, mereka tidaklah dipuji dikarenakan kesedihan mereka semata. Tetapi, lebih dikarenakan kesedihan mereka itu justru mengisyaratkan kuatnya keimanan mereka. Pasalnya, kesedihan mereka berpisah dengan Rasulullah adalah dikarenakan tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang. Ini merupakan peringatan bagi orang-orang munafik yang tidak merasa bersedih dan justru gembira manakala tidak mendapatkan kesempatan untuk turut berjihad bersama Rasulullah.

Kesedihan yang terpuji yakni, yang dipuji setelah terjadi, adalah kesedihan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan atau dikarenakan tersungkur dalam jurang kemaksiatan. Dan kesedihan seorang hamba yang disebabkan oleh kesadaran bahwa kedekatan dan ketaatan dirinya kepada Allah sangat kurang. Maka, hal itu menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya- Nya.

Sementara itu, makna sabda Rasululllah dalam sebuah hadis shahih yang berbunyi, “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, kegundahan dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya,” adalah menunjuk bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan itu merupakan musibah dari Allah yang apabila menimpa seorang hamba, maka hamba tersebut akan diampuni sebagian dosa-dosanya.

Dengan begitu, hadits ini berarti tidak menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan merupakan sebuah keadaan yang harus diminta dan dirasakan. Bahkan, seorang hamba justru tidak dibenarkan meminta atau mengharap kesedihan dan mengira bahwa hal itu merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan, diridhai atau disyariatkan Allah untuk hamba-Nya.

Sebab, jika memang semua itu dibenarkan dan diperintahkan Allah, pastilah Rasulullah ο·Ί akan menjadi orang pertama yang akan mengisi seluruh waktu hidupnya dengan kesedihan-kesedihan dan akan menghabiskannya dengan kegundahan-kegundahan. Dan hal seperti itu jelas sangat tidak mungkin. Karena, sebagaimana kita ketahui, hati beliau selalu lapang dan wajahnya selalu dihiasi senyuman, hatinya selalu diliputi keridhaan, dan perjalanan hidupnya selalu dihiasi dengan kegembiraan.

Memang, dalam hadist Hindun ibn Abi Halah tentang sifat Nabi ο·Ί disebutkan bahwa, “Sesungguhnya, dia selalu bersedih”. Namun, hadist ini ternyata kurang dapat dipercaya, sebab dalam silsilah perawinya terdapat seorang perawi yang tidak dikenal. Selain itu, muatan hadits inipun jelas sangat bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah ο·Ί.

Bagaimana mungkin Rasulullah dikatakan selalu dirundung kesedihan? Bukankah Allah telah melindungi beliau dari kesedihan yang berkaitan dengan urusan keduniaan dan semua unsur-unsurnya, melarangnya agar tidak bersedih atas perilaku orang-orang kafir, dan mengampuni semua dosa-dosanya yang telah berlalu maupun yang belum terjadi? Nah, dari manakah sumber kesedihan itu? Bagaimana pula kesedihan itu dapat menembus pintu hati beliau? Dan dari jalan manakah kesedihan itu dapat menyusup ke dalam lubuk hatinya?

Bukankah beliau ο·Ί senantiasa hatinya diliputi dzikir, jiwanya dialiri semangat istiqamah, pikirannnya selalu dibanjiri hidayah rabbaniyah, dan hatinya senantiasa tenteram dengan janji Allah serta rela dengan semua ketentuan dan perbuatan-Nya? Bahkan, Rasulullah adalah orang yang terkenal ramah dan murah senyum sebagaimana dilukiskan oleh salah satu gelarnya sebagai “seseorang yang murah senyum .”

πŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌπŸƒπŸƒπŸŒΌ

=============================
πŸ‘³πŸ»Konsultasi: https://wa.me/6281254571543 (Apry Zakaria Ramadhan)
πŸ“² Info KUTUB : Bit.ly/media_kutub
———–**———–
β•βπŸ’°SEDEKAH KUTUBπŸ’°β ═
πŸ’° Bank Muamalat Nomor rekening: 3180005019
πŸ’³ Ac : Komunitas Tahajjud Berantai atau Ke Member Account KUTUB masing-masing (bagi yang sudahu mendapatkan identitas member Kutub)
πŸ“±Konfirmasi : https://wa.me/6285749376876 (Bendahara KUTUB)

❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁
✊🏻 Mengokohkan Langkah, Menggelorakan Istiqamah (OMGT)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>