Hadits no. 3, Rukun Islam

📓📕📗📘📙📔
ARTIKEL MALAM

Hari/Tgl. : Sabtu, 03 April 2021
21 Sya’ban 1442 H
No. : 2057/AM/KOM/IV/2021
Materi : Hadist
Pemateri. : Ustadz Farid Nu’man Hasan

Tujuan : KUTUBer & Umum

📚 Hadits no. 3, Rukun Islam

MATAN HADITS

عَنْ أَبِی عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللّٰه بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ
رَضِیَ اللَّه عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ النَّبِی صَلَّی اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ بُنِیَ الإِسْلامُ عَلَی خَمسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّه وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Dari Abu Abdurrahman, abdullah bin Umar bin Khaththab r.a., dia berkata, ‘Aku mendengar Nabi saw. bersabd, Islam dibangun atas lima hal, (yaitu) kesaksian bahwa tidak ada Ilah, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; haji; puasa ramadhan.”

Pekan kemarin kita membahas bekal bagi mereka yang hendak haji yang pertama, yaitu bekal Taqwa. Kemudian pada hari ini kita membahas bekal haji yang nomor 2 yaitu bekal sabar.

  1. Bekal sabar

Allah SWT berfirman,

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran : 200)

Kita mengetahui bhawa setiap tahun ada berjuta-juta jamaah haji yang datang dari penjuru dunia. Mereka berkumpul di tempat yang sama dan terbatas. Satu sama lain belum saling mengenal, hanya aqidahlah yang mengikat mereka. Mereka memiliki latar belakang hidup yang berbeda, yaitu ada yang merupakan pengusaha, militer, pegawai, pekerja kasar, rakyat biasa, irang terdidik, dan lainnya. Mereka juga memiliki watak dan perilaku yang tidak sama. Oleh karena itu, kemungkinan terjadi “ketidakcocokan” sangat besar. Ada yang membuat kita senang, tetapi ada juga yang membuat kita marah. Ada yang membuat kita tersenyum, ada juga yang membuat kita bermuka masam.

Disinilah, letak pentingnya kesabaran dan melipatgandakan kesabaran. Sabar terhadap perilaku mereka dan “keanehan-keanehan” mereka. Tentunya, sabarlah dengan keterbatasan pelayanan petugas haji terhadap kita. Sabarlah dalam beribadah dan dalam menunggu makanan. Bersabarlah dalam mengantre kamar mandi atau mengantre wudhu, dan bentuk kesabaran lainnya.

Allah SWT berfirman tentang ciri orang yang bersabar,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ  ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran : 134)

ادْفَعْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ  ۚ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Mu’minun : 96)

Hakikat sabar adalah pada reaksi pertama atas musibah atau peristiwa buruk yang menimpa kita. Jika kita marah, mengumpat atau menangis dan menyesali kejadian lalu kita beristighfar dan baru menyadari kesalahan, itu bukanlah manusia sabar sejati.

Manusia sabar sejati adalah yang awal sikapnya terhadap segala macam keadaan dengan mengatakan, “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,” bukan langsung marah atau menangis.

Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah saw bersabda,
الصَّبْرُ عَنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَی

“Sabar adalah pada hantaman yang pertama.”

Ada seorang perempuan bernama Ummu Khansa ra. Dia memiliki empat orang anak dan semuanya mati syahid di medan tempur. Ada utusan yang mendatanginya dan menceritakan tentang kematian keempat anak-anaknya. Kemudian, Ummu Khansa ra menangis. Namun, dia menangis bukan karena sedih atau marah.
Dia ditanya, “Mengapa engkau menangis?”
Dan dia berkata, “Aku menangis bukan karena kematian anak-anakku, melainkan karena aku tidak ada lagi anak yang bisa dikirim ke medan jihad.”

Imam Ahmad bin Hanbal tampak terlihat tidak sehat. Ada seorang muridnya bertanya, “Tampaknya engkau tidak sehat?”.
Dia menjawab, “Alhamdulillah, aku baik-baik saja.”
Murid itu berkata lagi, “Mengapa engkau menyembunyikan keadaanmu?”.
Imam Ahmad menjawab, “Celakalah engkau. Apakah engkau ingin aku mencela ketetapan Allah terhadap diriku ini?”.

✍🏻 Diambil dari Judul Buku : Syarah Hadits Arba’in An-Nawawi

=============================
👳🏻Konsultasi: https://wa.me/6281254571543 (Apry Zakaria Ramadhan)
📲 Info KUTUB : Bit.ly/media_kutub
———–**———–
═❁💰SEDEKAH KUTUB💰❁ ═
💰 Bank Muamalat Nomor rekening: 3180005019
💳 Ac : Komunitas Tahajjud Berantai atau Ke Member Account KUTUB masing-masing (bagi yang sudah mendapatkan identitas member Kutub)
📱Konfirmasi : https://wa.me/6285749376876 (Bendahara KUTUB)

❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁
✊🏻 Mengokohkan Langkah, Menggelorakan Istiqamah (OMGT)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>