Memahami Cara Ulama Menghafalkan Ratusan Ribu Haqdits (Bagian 2)

πŸ“•πŸ“—πŸ“˜πŸ“™πŸ“”
ARTIKEL MALAM

Hari/Tgl. : Senin, 14 September 2020
27 Muharam 1442 H
No. : 1884/AM/KOM/IX/2020
Materi : Tasqif
Pemateri. : Wahyu Rinaldi

Tujuan : KUTUBer & Umum

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

πŸ“š Memahami Cara Ulama Menghafalkan Ratusan Ribu Haqdits (Bagian 2)

Semakin banyak murid, dari seorang guru, meniscayakan lebih banyak sanad. Dalam beberapa hadits yang mirip dalam beragam kitab, nama-nama di generasi perawi tertentu akan sama dengan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sang penyusun kitab hadits mengambil sanad dari beragam orang, namun di generasi yang lebih atas para perawi ini mengambil dari guru yang sama.

Setiap sanad cenderung akan β€œmenggurita” lewat banyak murid, dan mengingat kapasitas tiap manusia berbeda untuk ingat secara presisi, maka pasti ada perubahan dari redaksi riwayatnya. Karena itu para ulama hadits memperkenankan mekanisme yang disebut riwayat bil ma’na, selama tidak mengubah makna. Tapi guna mencegah kerancuan antar riwayat dalam sanad yang berbeda, para muhadditsin menetapkan bahwa satu sanad , meskipun di generasi-generasi perawi yang lebih atas ada guru yang sama, maka ia dihitung satu hadits.

Misalkan hadits populer tentang ruqyah. Tentang tema β€œrukhsah fi ruqyah” saja, perawi hadits di tingkatan sahabat ini banyak: Buraydah, Anas bin Malik, Aisyah, Jabir bin Abdillah, Thalq bin Ali, serta Amru bin Hazm. Bayangkan jika setiap sahabat itu meriwayatkan hadits kepada muridnya, dan setiap murid ada puluhan bahkan ratusan murid lainnya. Jadi dari satu hadits dari sahabat saja, sangat mungkin tercatat puluhan bahkan ratusan hadits lainnya karena perbedaan sanad.

Nah, para ulama hadits ini selain mampu dan tekun menghafal hadits yang ada, mereka juga cermat memilah sanad dan mengidentifikasi perbedaan riwayat matan dari tiap-tiap sanad, yang tentu menjadikan haditsnya juga dihafal.

Ribuan hadits yang tercatat dalam Shahih al Bukhari maupun Shahih Muslim terbatas sesuai kriteria penyusunan kitab yang dipakai. Sangat mungkin percabangan sanad hadits itu masih ada di kitab-kitab lainnya – yang masing-masingnya dihitung satu hadits. Ribuan hadits yang ada dalam kitab rujukan hadits, catat Syekh Azami, bisa saja bercabang dalam puluhan atau bahkan ratusan ribu hadits.

Mungkin kita pernah dengar ketika suatu waktu Imam al-Bukhari diuji hafalan haditsnya oleh sebagian ulama, dan beliau tak menjawab. Pasca-tes itu, ia memaparkan perihal riwayat hadits yang ada secara lebih akurat, dan tak lupa, meluruskan sanad-sanad hadits yang ada. Tanpa hafalan hadits yang kuat, serta pemahaman sanad yang cermat, menghafal banyak hadits agaknya adalah hal yang musykil.

Demikianlah, terlepas dari ketekunan, kapasitas intelektual serta juga keramat para ulama hadits ini, memahami banyaknya hafalan hadits para ulama ini akibat kemampuan mereka tidak hanya menghafal matan hadits, tapi juga pengetahuan tentang sanadnya. Para ulama ini mampu mengidentifikasi perbedaan riwayat tiap perawi, dan menelusurinya dalam rantai masing-masing, yang tiap rantainya dihitung satu hadits.

Jadi dari pertanyaan di awal : bagaimana mungkin para ulama hadits ini menghafal puluhan ribu bahkan ratusan ribu hadits? Pernyataan itu mungkin tidak presisi jumlahnya, tapi menghafal hadits dengan jumlah sak arat-arat, khususnya ketika tradisi lisan masih populer dibanding tradisi teks kitab atau tulisan, ia memungkinkan dan masuk akal.

Wallahu A’lam Bisshowab

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/7953/memahami-cara-ulama-menghafalkan-ratusan-ribu-hadits

==========================
πŸ‘³πŸ»β€β™‚Konsultasi: https://wa.me/6281254571543 (Apry Zakaria Ramadhan)

πŸ“² Info KUTUB : Bit.ly/media_kutub
———–**———–
β•βπŸ’°SEDEKAH KUTUBπŸ’°β ═

πŸ’° Bank Muamalat Nomor rekening: 3180005019

πŸ’³ Ac : Komunitas Tahajjud Berantai atau Ke Member Account KUTUB masing-masing (bagi yang sudahu mendapatkan identitas member Kutub)

πŸ“±Konfirmasi : https://wa.me/6285749376876 (Bendahara KUTUB)

❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁

✊🏻 Mengokohkan Langkah, Menggelorakan Istiqamah (OMGT)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>